Jambipers.com, Kerinci – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M.H.A. Thalib, Kerinci, mengelar konferensi pers untuk menanggapi berbagai kejadian dan isu miring yang menimpa rumah sakit milik pemerintah tersebut. Konferensi pers tersebut dilaksanakan di ruang pola RSUD M.H.A. Thalib sekira pukul 11.00 WIB, pada Rabu (17/2/2021).
Dalam konferensi pers tersebut, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M.H.A. Thalib, Kerinci, dr. Iwan Suwindra memberikan dan membuka diri untuk dikonfirmasi terkait berbagai kejadian maupun isu miring yang menerpa pelayanan rumah sakit plat merah tersebut.
Ketua Forwari, Dedi Dora dalam kesempatan itu mempertanyakan soal pelayanan terhadap pasien yang terkesan dibeda-bedakan. Dia berharap ke depan tidak ada lagi perbedaan dalam pelayanan terhadap pasien. Baik itu pasien umum maupun pasien berstatus warga miskin pemegang kartu BPJS.
Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Iwan Suwindra menegaskan bahwa pihaknya tidak membeda-bedakan pelayanan terhadap pasien. Pelayanan terhadap pasien selalu dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit.
“ Kita tidak memilah pasien umum dan BPJS, kita akan menindak pasien yang benar-benar parah dan membutuhkan pertolongan medis. Pasien masuk sesak nafas tentu ada frekuensi napas serta ada kategori presentasenya,” kata dr. Iwan Suwindra.
Terhadap ketidakpuasan pasien, dr. Iwan Suwindra mengajak seluruh rekan-rekan media agar sama-sama memberikan pemahaman kepada publik tentang SOP rumah sakit. Baik itu mengenai penanganan, pengobatan termasuk penanganan pasien yang didahulukan atau diutamakan.
Pertanyaan selanjutnya datang dari Sekjen DPD IWO Kerinci – Sungai Penuh, Riko. Wartawan Indojati Pos ini mempertanyakan seputar pengambilan atau penebusan obat ke apotek di luar rumah sakit. Padahal, RSUD M.H.A. Thalib telah memiliki atau dilengkapi dengan apotek sendiri.
“ Apa langkah-langkah yang akan diambil oleh pihak rumah sakit untuk mengatasi penebusan obat di luar,” katanya.
Iwan Suwindra menjelaskan, penebusan obat di luar itu terjadi dikarenakan obat yang dibutuhkan atau diresepkan oleh dokter tidak tersedia atau sudah habis persediaannya.
“ Kadang-kadang persoalan muncul secara individual, dalam hal itu pada saat ketersedian atau keinginan keluarga pasien sesuai resep dari dokter. Namun, ketersedian obat yang diresep itu sudah tidak tersedia lagi sesuai pasokan kebutuhan per tahun. Sebab, di rumah sakit juga harus melalui SOP dan Formularium Nasional dan Formularium RSUD itu sendiri. Dalam hal ini kita juga akan terus berbenah sesuai aturan dan SOP yang berada di rumah sakit,” ujar dr. Iwan Suwindra
Uung dari deadlinejambi mempertanyakan tentang sikap atau tindakan yang diambil oleh pihak RSUD terhadap pemberitaan media massa yang merugikan rumah sakit maupun terhadap para pegawai yang tidak mengikuti SOP rumah sakit.
Menanggapi pertanyaan itu, dr. Iwan Suwindra mengatakan, pihaknya sebenarnya sangat berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Baik itu terhadap pasien, keluarga pasien dan RSUD, sebagaimana adanya pemberitaan-pemberitaan yang sangat merugikan RSUD.
“ Ini menjadi pelajaran untuk semua, baik pihak RSUD, pasien serta keluarga pasien maupun pihak awak media,” ujar dr. Iwan Suwindra.
Iwan Suwindra menyampaikan bahwa pihak manajemen sudah berkonsultasi terhadap lawyer RSUD dan telah menekankan kepada semua pihak di rumah sakit untuk selalu mempedomani SOP.
“ Mengenai pelayanan pasien IGD juga harus sesuai SOP, kita sama-sama ingin melayani dan dilayani, layani siapa yang duluan datang. Yang baru datang juga harus didahulukan jika kondisinya darurat dan gawat darurat,” katanya.
Demikian juga dengan sistem rujukan. SOP-nya harus singkron dengan tempat atau RSU yang dituju. Sebelum pasien rujukan diberangkatkan, pihak rumah sakit harus menghubunggi pihak rumah sakit rujukan untuk memastikan dokter, ruangan inap, dan lain-lain. “ Tujuannya agar sang pasien dan keluarga rujukan tidak terlantar di rumah sakit rujukan nantinya,” bebernya.
Konferensi pers ini dilaksanakan menanggapi ketidakpuasan pasien saat berobat ke RSUD M.H.A. Thalib, Kerinci, yang terjadi baru-baru ini. Pemberitaan itu sempat viral dan pihak rumah sakit merasa dirugikan.(Dikin)








