Jambipers.com, Tanjab Barat – Bupati Tanjab Barat Drs. H. Anwar Sadat, M. Ag membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Rencana Investasi Lanskap (bentang alam) Pantai Timur bertempat di Ruang Rapat Bapedda, Kamis (29/9/2022).
Turut hadir perwakilan Kepala Bapedda Provinsi Hendra Atmaja SE, M.M, Perwakilan Bank Dunia Dr.M.Ridwansyah SE, M.Sc, Sekretaris Derah Ir.H.Agus Sanusi M,S.i, Asisten Perekonominan dan Pembangunan Ir. H. Firdaus Khatab M.M, Kepala Bapedda Dr. Katamso, SA S.E, ME, Perwakilan Kecamatan Senyerang, Kecamatan Pengabuan, Kecamatan Betara, Kecamatan Bram Itam, Kecamatan Tungkal Ilir, Kecamatan Seberang Kota, Kecamatan Kuala Betara, serta pihak swasta dan Asosiasi Pecinta Kopi Indonesia.
Bupati dalam sambutannya mengatakan FGD Lanskap Pantai Timur ini sangat penting dalam menyusun tata ruang yang terdiri dari hutan, mangrove, kelapa, pinang, dan kopi. Tanjab Barat juga merupakan bagian yang sangat penting di Provinsi Jambi sebagai sumbangsih dunia untuk menurunkan emisi biokarbon dari hutan yang masih terjaga dan alami.
“Kami ucapkan terima kasih kepada bank dunia yang telah berkolaborasi bersama Bapeda Tanjab Barat dan Bapeda Provinsi Jambi dalam penyusunan Lanskap yang dimana nanti akan menimbulkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan masyarakat Tanjab Barat,” kata Bupati Anwar Sadat.
“Hanya ada dua kota di indonesia sebagai penyumbang emisi biokarbon terbesar antaranya Kalimantan Tmur dan Tanjab Barat, untuk menjaga hutan dan mangrove kami sangat berharap kepada pemerintah Provinsi Jambi yang mana pada saat ini potensi-potensi kami itu terancam akibat cuaca esktrim dan pendangkalan sungai-sungai yang mengakibatkan banjir di Tanjab Barat,” tambahnya
Lebih lanjut, Anwar Sadat mengatakan, hanya dengan perencanaan yang matang maka pemerintah bisa menyakinkan bank dunia untuk mengucurkan dana demi mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi Kabupaten Tanjab Barat.
“Saat ini tata ruang kita sedang diselesaikan yang akan menjadi harapan bagi para investor bisa masuk ketanjab barat, sehingga komuniti kita yang ada seperti kelapa dalam, pinang dan kopi tidak diekspor dalam bentuk mentah, tetapi bisa dikemas dengan bebagai macam bentuk,” tutup bupati.
Sebelumnya, Perwakilan Bank Dunia Dr.M.Ridwansyah SE, M.Sc dalam pemaparannya menyampiakan harapan terhadap proyek ini agar dapat dikoordinir oleh bupati secara langsung. Saat ini untuk Provinsi Jambi dana yang dikucurkan bank dunia sebesar Rp200 M dan jika dianggap mampu mengunakan dana itu dengan baik maka bank dunia akan mengucurkan kembali dana kompensasi sebesar Rp1,3 T. Dana kompensasi itu bisa dibayarkan tahun depan dalam dua kali pembayaran.
“Hal ini dilakukan bank dunia asal kita bisa menunjukkan penurunan emisi biokarbon dunia, dan nanti ada konsultan yang menghitungnya,” ujarnya.
Selain itu, diharapkan pihak swasta mau atau bersedia berinvestasi karena ME bisa berbisnis dengan pihak swasta. Hal ini harus ditawarkan sehingga sangat penting sekali pada FGD ini kehadiran pihak swasta agar nantinya menjadi keseimbangan antara fungsi ekonomi dan fungsi sosial.
“Ini merupakan rencana investasi yang berbasis naurisce isinya ada dua diantaranya desain perancanaan yang pas untuk sebuah lanskap dan when is it planned ini yang sangat penting kapan akan dilaksanaknnya, berapa uangnya kemudian siapa yang bertanggung jawab,” katanya.
Penulis: Augustinus Siahaan







