Jambipers.com, Muara Bulian – Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief (MFA) mengatakan bahwa setiap periode jabatan mempunyai tantangan dan dinamika yang berbeda-beda. Di awal tahun masa jabatannya, Kabupaten Batanghari mengalami kondisi pandemi Covid-19 sehingga ada refocusing anggaran.
Berbeda sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Batanghari. Pandemi memang sudah terjadi, tetapi refocusing anggaran cuman dilakukan satu kali. Sementara di 2021 terjadi dua kali refocusing anggaran.
” Untuk di Batanghari pada 2021 menjadi tiga kali refocusing anggaran, karena ditambah beban tunda bayar untuk tahun-tahun sebelumnya yang nilainya Rp 94,5 miliar,” kata Bupati Fadhil Arief, Kamis (10/3/2022).
Kata Fadhil Arief, semua itu menjadi tanggung jawab bersama dan bagaimana fiskal di Batanghari menjadi sehat. “Dan Alhamdulillah per 31 Desember tunda bayar APBD Batanghari tahun-tahun sebelumnya dapat kita selesaikan,” ujarnya.
Sebut Fadhil Arief, hal ini bukan tugas yang mudah, tapi juga bukan tugas yang sulit. Semua para Kadis dan Kaban dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Batanghari pasti mengeluh di tahun-tahun sebelumnya karena keadaan memang tidak berpihak.
” Manusia yang cerdas bisa beradaptasi dengan keadaan apapun juga, saya yakin kawan-kawan OPD ini bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada,” katanya.
Menurut Fadhil, ada satu hal yang perlu harus di ubah. Para pegawai harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tidak bisa sekedar biasa-biasa saja.
” Sesuatu yang biasa belum tentu benar, dan sesuatu yang tidak biasa juga belum tentu salah. Orang melahirkan inovasi pasti melahirkan sesuatu tidak biasa. Dan sesuatu yang tidak biasa akan membuat orang pro dan kontra, membuat sebagian orang tidak nyaman. Kalau tidak ada yang protes berarti bukan inovasi,” terang orang nomor satu di Bumi Serentak Bak Regam itu.
Lanjut Fadhil Arief, di tahun ini, sebanyak 36 program prioritas kepemimpinannya harus dijalankan secara penuh. Dirinya sangat mengetahui dan memahami bahwa masyarakat sudah tidak sabar menunggu perubahan di Kabupaten Batanghari.
“Begitu besar tuntunan masyarakat, Mereka menunggu jalan kabupaten yang ada di desanya segera diperbaiki. Sementara kondisi di Batanghari, 69,7 persen jalannya dalam keadaan rusak,” ujarnya.
“Untuk pembangunan jalan hingga selesai semua, tidak bisa hanya dengan kurun waktu 1, 2 hingga 5 tahun. sepandai-pandainya bagi siapapun yang bisa mengusahakan dana pusat, dan yang bisa mengembangkan PAD pasti tidak bisa selesai sampai 65 persen,” tambahya.
”Tapi bagaimana kita membuat prioritas, membuat anggaran menjadi fokus, dan menjadi lebih besar manfaatnya dengan menghitung kemendesakan dan efek dari pembangunan suatu jalan tersebut, ” bebernya.
Lebih jauh Fadhil Arief mengatakan, dalam rangka membuat prioritas, pasti ada pro dan kontra. Sebab, manusia cenderung membuat dirinya nyaman dan ini akan secara alami dibuat tuhan.
” Dia akan mengatakan, desanya sangat perlu, kecamatan-nya sangat butuh. Dia lupa dengan kecamatan lain yang mungkin lebih butuh. Saya dulu pada saat menjadi camat sering teriak-teriak saat Musrenbang, karena kita merasakan, bahwa jalan di desa A sangat jelek. Setelah saya sosialisasi Pilkada, saya temukan jalan yang lebih baruk lagi ditempat saya tinggal, ” bebernya.
Fadhil Arief juga menyebutkan, bahwa dirinya pernah diprotes oleh warga di Pasar TerusAN di tahun 2021 Karena pada refocusing anggaran, pihaknya menganggarkan rehab berat untuk pembangunan ulang jalan di Teratai – Sungai Baung, dan Bajubang Laut.
” Kata warga Terusan, jalan kami juga buruk kenapa tidak kami yang didahulukan. Lalu saya jawab, jalan Simpang Terusan, Pasar Terusan itu dibangun pada tahun 1984, sedangkan jalan Teratai – Sungai Baung itu dibangun pada tahun 1982. Dan dengan kondisi sama, jadi warga Sungai Baung – Teratai menderita lebih lama. Sementara Simpang Terusan – Pasar Terusan dinikmati satu desa, dan bukan tembusan atau lintasan dari desa lain,” katanya
Fadhil Arief menjelaskan, untuk hal-hal seperti itu harus dipahami semua orang. Masyarakat harus bisa berpikir jernih serta memiliki nurani. ”Bagaimana penderitaan orang yang lebih berat, kita harus ikhlas kan untuk didahulukan,” tandasnya.(***)






