Vaksin Corona Moderna Terbukti Cegah Covid-19

oleh -

Jambipers.com – AS segera memiliki vaksin corona kedua pada akhir pekan ini. Setelah sebelumnya vaksin corona Pfizer lolos uji coba dan mendapat izin pekan lalu, sekarang giliran vaksin corona dari Moderna terbukti dapat mencegah sukarelawan dari virus corona dan gejala Covid-19 yang parah.

Dalam data review dari badan pengawas obat dan makanan AS (Food and Drugs Administration/FDA) yang dirilis pada Selasa (15/12/2020), dua dosis vaksin corona Moderna terkonfirmasi dapat melindungi 94,1 persen dari 30.000 sukarelawan yang terlibat dalam uji coba.

Efek samping seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan dirasakan oleh sukarelawan. Namun, efek samping tersebut tidak berbahaya.

Data tersebut juga mengungkap, vaksin corona Moderna bekerja secara setara baik untuk sukarelawan kulit putih maupun kelompok lain. Selain itu, hasilnya juga tak ada perbedaan signifikan antara sukarelawan laki-laki maupun perempuan, baik yang tergolong rentan terhadap gejala parah Covid-19 maupun tidak.

Meski demikian, data review itu menyebut kalau vaksin corona Moderna hanya memiliki tingkat efikasi sebesar 86,4 persen bagi sukarelawan lanjut usia di atas 65 tahun.

Kapan vaksin corona Moderna disetujui?

Menurut narasumber terpercaya yang diwawancarai The Washington Post, vaksin corona Moderna bakal mendapatkan lampu hijau dari FDA pada Jumat (18/12) pekan ini.

Para pakar independen sendiri bakal menghelat rapat untuk menentukan izin penggunaan vaksin corona Moderna pada Kamis (17/12/2020). Rapat tersebut akan dihadiri oleh perwakilan Moderna, FDA, ilmuwan, dan publik.

Menurut laporan The New York Times, kemungkinan besar hasil keputusan tersebut mengizinkan vaksin corona Moderna.

Untuk mengantisipasi keluarnya izin penggunaan tersebut, AS tengah mempersiapkan 6 juta dosis vaksin corona Moderna untuk dikirimkan ke 3.285 lokasi pada pekan pertama, menurut laporan The Washington Post.

Pemerintah AS sebelumnya telah sepakat membeli 200 juta dosis lanjutan dari vaksin corona Moderna. AS mengucurkan 4,1 miliar dolar AS dari pajak rakyat mereka untuk membeli vaksin tersebut.

Bagaimana detail uji cobanya?

Dalam uji coba Moderna, sebagian dari 30.000 sukarelawan secara acak menerima dua suntikan vaksin yang diberikan selang empat minggu. Sebagian yang lain mendapatkan dua suntikan plasebo.

Baik peserta maupun petugas yang menjalankan uji coba tidak mengetahui siapa yang berada di kelompok vaksin atau plasebo. Para peneliti kemudian menunggu ketika orang-orang terpapar virus corona dalam kehidupan sehari-hari mereka, untuk melihat apakah ada lebih banyak infeksi Covid-19 pada kelompok plasebo.

Selama uji coba, ada 196 sukarelawan yang terinfeksi virus corona. Sebanyak 11 orang yang positif di adalah sukarelawan vaksin, sementara 185 lain adalah kelompok yang menerima suntikan plasebo.

Sebanyak 30 orang positif corona dari kelompok plasebo mengembangkan gejala COVID-19 yang parah. Sementara tak satupun sukarelawan vaksin mengalaminya.

Satu orang juga tercatat meninggal akibat Covid-19 selama uji coba. Ia berasal dari kelompok plasebo.

Selama uji coba, ada tiga kasus Bell’s palsy atau kelumpuhan wajah sementara pada kelompok yang menerima vaksin Moderna. Di kelompok plasebo, kasus kelumpuhan wajah sementara hanya terjadi pada satu sukarelawan.

Orang yang mengalami kelumpuhan wajah sementara, kata laporan tersebut, memang telah memiliki faktor risiko. Rasionya juga wajar, seperti di populasi umum.

Namun, FDA mengatakan kalau pengawasan lebih lanjut mesti diperhatikan ketika vaksin telah didistribusi.

“Mempertimbangkan hubungan temporal dan kemasuk-akalan biologis, kontribusi potensial dari vaksin terhadap manifestasi dari kejadian kelumpuhan wajah ini tidak dapat dikesampingkan,” kata FDA dalam laporannya.

“FDA akan merekomendasikan pengawasan untuk kasus Bell’s palsy dengan penyebaran vaksin ke populasi yang lebih besar.”

Selain kelumpuhan wajah sementara, sejumlah sukarelawan vaksin juga mengalami pembengkakan lengan (limfadenopati). Sebanyak 16 persen sukarelawan dari kelompok usia 18-65 tahun mengalami gangguan ini setelah dosis kedua.

Secara umum, FDA tak menemukan ada reaksi alergi yang parah dari sukarelawan uji coba vaksin corona Moderna.

Rekam jejak vaksin corona Moderna

Vaksin Moderna didasari dari molekul genetik yang disebut messenger RNA (mRNA). Mereka telah mengembangkan calon vaksin mereka pada Januari 2020.

Vaksin berdasar mRNA sendiri berisi informasi genetik yang membentuk protein virus corona, yang dikenal sebagai spike. Saat disuntikkan ke dalam sel, vaksin nantinya akan memicu spike protein dan memicu respons dari sistem kekebalan tubuh.

Pada Maret 2020, Moderna adalah calon vaksin corona pertama yang diuji coba ke manusia. Setelah studi tersebut membuahkan hasil yang menjanjikan, pengujian fase 3 yang mencakup 30.000 sukarelawan dimulai pada 27 Juli.

Di bulan Juli juga, Moderna dan National Institute of Health melaporkan kalau vaksin mereka efektif saat diuji coba kepada monyet.

Pada 16 November, Moderna mengumumkan data awal pertama dari uji coba mereka. Dari 196 kasus COVID-19 yang menjangkiti relawan uji, 185 di antaranya adalah penerima plasebo. Di antara 11 relawan vaksin yang terjangkit Covid-19, tidak ada yang mengidap penyakit berat. Laporan inilah yang kemudian dikonfirmasi oleh FDA, Selasa (15/12/2020).

Meskipun tidak jelas berapa lama kemanjuran ini akan bertahan, Moderna menemukan bahwa para peserta uji coba masih memiliki pertahanan kekebalan yang kuat terhadap virus corona hingga tiga bulan.

Data lengkap penelitian Moderna telah dipublikasi pada 30 November lalu dan mendaftarkannya kepada Food and Drugs Administration (FDA) AS. Pada 2 Desember, Moderna mendaftarkan uji coba vaksin mereka pada anak-anak berusia antara 12 dan 18 tahun.(***)

Sumber: Kumparan.com

 

No More Posts Available.

No more pages to load.