Jambipers.com, Muara Bulian — Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Batang Hari telah berdampak negatif pada sektor perikanan budi daya. Ribuan ekor ikan nila budi daya pada empat unit keramba jaring apung milik warga di RT 02, Desa Aro, Kecamatan Muara Bulian, dilaporkan mengalami kematian secara massal akibat debit air Sungai Batanghari yang menyusut drastis.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat (10/9/2026) tersebut menyebabkan ribuan ikan nila yang baru menginjak usia dua bulan mati mengapung. Fenomena ini diduga kuat terjadi karena pendangkalan sungai yang memicu peningkatan suhu air, sehingga kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) menurun tajam secara mendadak.
Berdasarkan hasil pendataan komparatif di lapangan, total kerugian materiil yang dialami oleh pemilik keramba, Rusli, diperkirakan mencapai Rp45.000.000 (Empat Puluh Lima Juta Rupiah).
Saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Rusli mengungkapkan bahwa laju penurunan debit air sungai pada musim kemarau tahun ini terjadi sangat ekstrem dan di luar prediksi para pembudi daya setempat.
Penyusutan volume air berlangsung sangat cepat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi sungai menjadi dangkal dan suhu air meningkat, sehingga ikan mengalami anoksia atau kekurangan oksigen. Upaya evakuasi maupun panen dini tidak sempat dilakukan karena kematian massal terjadi dalam waktu singkat,” ujar Rusli.
Atas musibah tersebut, pihak pengelola berharap adanya atensi dan langkah penanggulangan dari Pemerintah Kabupaten Batanghari, khususnya Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan setempat. Bantuan modal stimulus atau solusi teknis sangat dibutuhkan guna memulihkan produktivitas sektor perikanan hilir yang terdampak bencana kekeringan ini.(Sam)








